Diehard

Pada suatu hari ada seekor keledai terjatuh dalam sumur tua yang sudah kering, keledai tersebut cukup beruntung karena tidak mengalami luka yang parah, namun saat ini ia kebingungan: “bagaimana caranya keluar dari sumur tua yang gelap ini… lembab, tidak ada yang bisa dimakan, dan sumur ini terlalu dalam untuk bisa didaki keluar.” Bila tidak melakukan sesuatu, ia hanya akan mati konyol secara perlahan di dalam sumur itu, dengan segala daya ia berusaha untuk keluar menyelamatkan diri , tetapi seberapa keraspun ia berusaha, semuanya sia – sia.

 

Saat kelelahan ia tertunduk lemas menyadari keterbatasannya, namun ia menolak untuk menyerah. Sampai akhirnya ia mendapat ide untuk meminta pertolongan warga desa dengan terus menangis hingga orang – orang datang untuk menolongnya.

 

Berhasil! Banyak warga yang datang kesana, dan keledai itu juga berhasil menarik simpati warga yang datang. Warga berusaha menolongnya, namun sumur tersebut terlalu dalam. Berbagai cara dicoba oleh warga desa untuk menolong keledai tersebut, namun hasilnya sia – sia…

 

Ternyata warga desa tetap tidak tega mendengar suara keledai yang terus menangis tanpa henti dari dasar sumur. Akhirnya warga desa memutuskan untuk mengubur sumur tua tersebut dengan tanah bersama keledai itu. “Rasanya lebih baik bila ia mati terkubur sekarang daripada mati perlahan di bawah sana, selain itu kita perlu mengubur sungai tua ini agar tidak ada korban lagi”, begitu kata seorang warga yang disetujui warga lainnya.

 

Maka warga mulai mengambil sekop dan satu demi satu mulai memasukan tanah ke dalam sumur tersebut dengan maksud mengubur keledai bersama sumur tua itu. Tetapi tidak seperti dengan apa yang dipikirkan warga, keledai tersebut ternyata tidak terkubur dalam tanah tersebut. Setiap tanah yang dilemparkan kepadanya bukan menguburnya, malah menjadi pijakan baginya untuk keluar dari sumur itu, ia terus menggerakan badannya dan memijak pada setiap tanah yang dilemparkan kepadanya. Tanah – tanah yang terus dilemparkan kepadanya membuat ia terus bergerak, ternyata semakin cepat warga melemparkan tanah untuk mengubur keledai itu, semakin cepat pula keledai tersebut mendaki sumur! Sampai akhirnya keledai tersebut mampu melompat keluar sumur dengan selamat!

 

Sekali lagi kita melihat bahwa apa yang tidak membunuh kita, akan menjadikan kita lebih kuat! Semua tergantung dari sisi apa kita ingin memandang permasalahan. Bila kita memandang itu sebagai sesuatu yang negatif, maka terjadilah sesuai dengan yang kita pikirkan. Sebaliknya bila kita berpikiran positif, permasalahan dan tantangan ada untuk mempersiapkan kita menjadi pribadi yang kuat. Kita akan menyadari bahwa Permasalahan justru merupakan cara yang Tuhan pakai untuk membuat kita menjadi lebih baik!

 

Apakah cerita ini membuat kita teringat akan sesuatu?

 

Bagi sebagian orang, kisah keledai ini mungkin mirip dengan diri kita saat ini, jatuh… menghilang… dan terlupakan…

 

Seperti keledai yang menangis sekencang – kencangnya untuk memanggil orang – orang desa menolongnya, kita juga harus berani menyuarakan mimpi kita dengan lantang! Hingga orang yang tepat menyadari keberadaan kita dan membantu kita untuk menggapai mimpi tersebut!

 

Tetapi ketahuilah: dari banyaknya orang yang datang, jangan heran bila kita menemukan sebagian besar dari mereka yang datang malah berusaha untuk membunuh bahkan mengubur mimpi kita yang terlihat gila di mata mereka! Untungnya, pilihan selalu ada di tangan kita. Apakah kita akan mati terkubur dalam tanah – tanah cemoohan yang dilemparkan orang – orang, atau justru hal tersebut kita ubah menjadi pijakan – pijakan untuk sukses.

sumber : https://www.nicholaskurniawan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *